Hanya membatu seorang teman yang mempunyai hati mulia.... ya tak hanya emmabtu dia saja.. ini juga dapat membatu Anda-Anda yang kesulitan ingin membayar zakat.. atau tidak tahu harus bayar zakat kemana..
kisah ni saya petik langusng dari catatnya yang di kirim ke saya...
"Pertanyaan inilah salah satu yang mungkin hadir dalam benak
kaum muslimin ketika saat itu awal-awal Rosulullah SAW. selesai
menyelesaikan tugas (wafat) kerosulannya. Perbedaan pendapat tentang
kewajiban menjalankan syariat setelah wafatnya rosul inilah yang menjadi
salah satu permasalahan. Penegasan inilah kemudian dilakukan oleh Abu
Bakar ra. untuk memerangi siapa saja umat muslim yang menolak
menjalankan syariat yang telah ditetapkan Allah melalui rosul, termasuk
zakat," kata si brur dengan gaya ustadznya kepada sudi dan fahri, "Nah
lho, masih mau tanya harus bayar atau gak? malu bertanya sesat di jalan,
nanya wajib zakat atau nggak kena marah pak haji..hehe"
"oh gitu ya?" tukas sudi, "klo pake uang ekskul boleh gak ya?"
"huss ngawur kamu, ya kan brur?" sela fahri
"tumben lu ngerti.." brur tak percaya
"iya kan uang ekskul cuma dikit gak nyampe nishabnya"
Brur dan Sudi menghela nafas bersama.
"harta yang mau dizakatkan harus milik sendiri," brur melanjutkan, "dan mencapai nishab kata fahri tadi"
"tuh kan gue bener.." sela fahri lagi
"Aneh ya brur," sudi melanjutkan pertanyaannya, "Allah kan kasih rejeki itu buat kita, kok kita musti dibalikin lagi?"
"mungkin melatih kita untuk selalu ingat bahwa semua itu bukan milik
kita, kita hanya dititipkan dan mengelolanya saja..hehe" jawab brur
sambil garuk-garuk kepala.
"iya, makanya gue gak mau pake
fasilitas sekolah untuk kepentingan pribadi" sahut fahri dengan bangga
sambil membenarkan kacamatanya.
"ya, ya, ya.." kata sudi dan Brur kompak.
"Eh brur, tapi gue gak pernah lihat guru-guru kita bayarin zakatnya ke tempat kita?" giliran fahri yang bertanya
"iya betul.." celetuk sudi yang sudah hampir 7 hari nungguin tempat
bayar zakat yang dikelola sekolah bareng brur dan fahri, "padahal hari
terakhir nih"
"lagi buat kue kali..hehe," jawab brur sekenanya "tapi yang jelas Allah tahu kok mana yang sudah mana yang belum"
"Rumahnya di kasih label sama malaikat ya brur?" tanya fahri
"Muke lu di tandain sama malaikat" samber sudi
"oh di tandain di muka ya?," perjelas fahri, "tapi kan gue belum bayar zakat?"
"nandain klo bentar lagi lu mau di cabut nyawanya" jawab sudi
Brur hanya geleng-geleng kepala melihat dua orang temannya ini bicara.
Brur hanya bisa bersabar selama tujuh hari jagain tempat bayar zakat
sekolah bersama mereka. "Eh katanya zakat juga termasuk tanda orang
bertaqwa lho," potong Brur, "jadi lu bayar zakat dulu aja ri. Jadi pas
malaikat dateng nyabut nyawa lu, lu udah jadi orang bertaqwa..hihi"
"Eh kayaknya kok gak ada yang dateng lagi bayar zakat ke sekolah ya?" Brur memotong keributan dua temannya.
"iya nih, yuk kita tutup aja..udah capek nih," sahut sudi, "lagian
sekolah ngapain sih capek-capek buat ginian? eh kita trus yang disuruh
jagain"
"Biar sekolah kita terkenal nantinya, kan kita nanti
nyebarinnya ke daerah yang gak terjangkau sekolah lainnya. ya kan Brur?"
jawab Fahri lagi
"Iya, biar daerah lain juga bisa dapet zakat dari kita" jelas Brur
*******
Nah
Sobat-sobat sekalian, yuk kita bantuin si Brur, Sudi dan Fahri
ngumpulin Zakat. Bagi temen-temen yang mau bayar zakat bisa menyalurkan
zakatnya ke Indonesia Ziswaf Center (ZIC) melalui saya (Ahmad Syukri,
085292190481)
Menerima Zakat apapun (Fitrah, mal, profesi, dll),
juga infaq, dan sedekah. Nah klo bingung untuk zakat berapa persen dari
jumlah yang harus dikeluarkan juga bisa menghubungi saya. bagi yang udah
tau bisa transfer langsung zakatnya ke :
1. Rekening Mandiri Syariah
229 700 5735 a.n Lilis Nurhayati
2. rekening Muamalat
915 523 9799 a.n Ardiansyah CQ Ziswaf Center
3. rekenig BCA
861 014 7632 a.n Lilis Nurhayati
Nah
selesai mengirimkannya, langsung konfirmasi ke saya ya (085292190481)
biar tercatat sebagai pemberi zakat.walaupun allah tahu..kan
administrasi manusia juga perlu..hehe
Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan
Asal usul Dajjal
Asal-Usul Keluarganya:
Dajjal adalah seorang manusia dari keturunan Yahudi. Dia bukan Jin atau apajua makhluk lain selain ia sebagai manusia yg ditangguhkan ajalnya "MinalMunzharin" seperti halnya Nabi Isa as yg di angkat oleh Allah swt ke ataslangit dan ditangguhkan kematiannya sehingga beliau nantinya turun semula keatas muka bumi ini lalu beliau akan mati dan di kuburkan di Madinah AlMunawwarah. Sama juga halnya dgn Iblis yg di tangguhkan kematiannya sehinggakiamat nanti.
Dajjal; ayahnya seorang yg tinggi dan gemuk. Hidungnya seperti Paruh burung.Sedangkan Ibunya pula seorang perempuan gemuk dan banyak dagingnya. MenurutImam Al Barzanji ada pendapat mengatakan bahawa asal keturunan bapanya ialahseorang Dukun Yahudi yg di kenali dgn "syaqq" manakala ibunya adalah daribangsa Jin. Ia hidup di zaman Nabi Sulaiman as dan mempunyai hubungan denganmakhluk halus. Lalu oleh Nabi Sulaiman ia akhirnya ditangkap dan dimasukkanke dalam penjara. Walau bagaimanapun kelahiran dan kehidupan masa keciltidak diketahui dgn jelas.
Sifat Badannya:
Hadis Huzaifah r.a katanya: Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Dajjal ialah orang yang buta matanyasebelah kiri, lebat (panjang) rambutnya serta dia mempunyai Syurga danNeraka. Nerakanya itu merupakan Syurga dan Syurganya pula ialah Neraka(Hadis Sahih Muslim)
Ada beberapa ciri perawakan Dajjal yg disebutkan dalam Hadis Rasulullahsaw, diantaranya:
Seorang yg kelihatannya masih muda;Berbadan Besar dan agak kemerah-merahan;Rambutnya kerinting dan tebal. Kelihatan dari belakang seolah-olah dahankayu yg rimbun.
Dan tandanya yg paling ketara sekali ada dua:Pertama: Buta mata kirinya dan kelihatan seperti buah kismis yg kecut,manakala mata kanannya tertonjol keluar kehijau-hijauan berkelip-keliplaksana bintang. Jadi kedua-dua matanya adalah cacat.Kedua: Tertulis didahinya tulisan "Kafir (Kaf-Fa-Ra)". Tulisan ini dapatdibaca oleh setiap org Islam, sama ada ia pandai membaca atau tidak.Mengikut hadis riwayat At-Thabrani, kedua-dua tanda ini menjelma dalam diriDajjal setelah ia mengaku sebagai Tuhan. Adapun sebelum itu, kedua-dua tandayg terakhir ini belum ada pada dirinya.
Tempat Tinggalnya Sekarang:
Menurut riwayat yg sahih yg disebutkan dlm kitab "Shahih Muslim", bahawaDajjal itu sudah wujud sejak beberapa lama. Ia dirantai di sebuah pulau danditunggu oleh seekor binatang yg bernama "Al-Jassasah". Terdapat hadis mengenainya.. (tetapi terlalu panjang utk ditulis.. andaboleh membaca terus dari buku). Daripada Hadis ini jelaslah bagi kita bahawaDajjal itu telah ada dan ia menunggu masa yg diizinkan oleh Allah swt utkkeluar menjelajah permukaan bumi ini dan tempat "transitnya" itu ialah disebelah Timur bukan di Barat.
Berapa lama ia akan hidup setelah kemunculannya:
Dajjal akan hidup setelah ia memulakan cabarannya kepada umat ini, selamaempat puluh hari sahaja. Namun begitu, hari pertamanya adalah sama dgnsetahun dan hari kedua sama dengan sebulan dan ketiga sama dengan satuminggu dan hari-hari baki lagi sama seperti hari-hari biasa. Jadikeseluruhan masa Dajjal membuat fitnah dan kerosakan itu ialah 14 bulan dan14 hari. Dalam Hadis riwayat Muslim ada disebutkan:
Kami bertanya: "Wahai Rasulullah! Berapa lamakah ia akan tinggal di mukabumi ini? Nabi saw, menjawab: Ia akan tinggal selama empat puluh hari. Hariyg pertama seperti setahun dan hari berikutnya seperti sebulan dan hariketiga seperti seminggu. Kemudian hari yg masih tinggal lagi (iaitu 37hari) adalah sama seperti hari kamu yg biasa.Lalu kami bertanya lagi: Wahai Rasulullah saw! Di hari yg panjang sepertisetahun itu, apakah cukup bagi kami hanya sembahyang sehari sahaja (iaitu 5waktu sahaja). Nabi saw menjawab: Tidak cukup. Kamu mesti mengira hari itudgn menentukan kadar yg bersesuaian bagi setiap sembahyang.."
Maksud Sabdaan Rasulullah saw, ini ialah supaya kita mengira jam yg berlalu pada hari itu. Bukan mengikut perjalanan matahari seperti biasanya kitalakukan. Misalnya sudah berlalu tujuh jam selepas sembahyang Subuh pada hariitu maka masuklah waktu sembahyang Zohor, maka hendaklah kita sembahyangZohor, dan apabila ia telah berlalu selepas sembahyang Zohor itu tiga jamsetengah misalnya, maka masuklah waktu Asar, maka wajib kita sembahyang AsarBegitulah seterusnya waktu Sembahyang Maghrib, Isyak dan Subuh seterusnyahingga habis hari yg panjang itu sama panjangnya dgn masa satu tahun danbilangan sembahyang pun pada sehari itu sebanyak bilangan sembahyang setahunyg kita lakukan. Begitu juga pada hari Kedua dan ketiga.
Fitnah Dajjal:
Dajjal telah diberi peluang oleh Allah swt utk menguji umat ini. Oleh keranaitu, Allah memberikan kepadanya beberapa kemampuan yg luar biasa. Di antarakemampuan Dajjal ialah:
1. Segala kesenangan hidup akan ada bersama dengannya. Benda-benda beku akanmematuhinya.Sebelum kedatangan Dajjal, dunia Islam akan diuji dahulu oleh Allah dgnkemarau panjang selama 3 tahun berturut-turut. Pada tahun pertama hujan akankurang sepertiga dari biasa dan pada tahun kedua akan kurang 2/3 dari biasadan tahun ketiga hujan tidak akan turun langsung. Umat akan dilandakebuluran dan kekeringan. Di saat itu Dajjal akan muncul membawa ujian. Makadaerah mana yg percaya Dajjal itu Tuhan, ia akan berkata pada awan: Hujanlahkamu di daerah ini! Lalu hujan pun turunlah dan bumi menjadi subur. Begitujuga ekonomi, perdagangan akan menjadi makmur dan stabil pada org ygbersekutu dgn Dajjal. Manakala penduduk yg tidak mahu bersukutu dgn Dajjal..mereka akan tetap berada dlm kebuluran dan kesusahan.
Dan ada diriwayatkanpenyokong Dajjal akan memiliki segunung roti (makanan) sedangkan org ygtidak percaya dengannya berada dalam kelaparan dan kebuluran.
Dalam hal ini, para sahabat Rasullullah s.a.w. bertanya:"Jadi apa yg dimakan oleh org Islam yg beriman pada hari itu wahaiRasulullah?"Nabi menjawab:"Mereka akan merasa kenyang dengan bertahlil, bertakbir, bertasbih danbertaubat. Jadi zikir-zikir itu yang akan menggantikan makanan." H.R IbnuMajah
2. Ada bersamanya seumpamanya Syurga dan Neraka:
Di antara ujian Dajjal ialah kelihatan bersama dengannya seumpama syurga danneraka dan juga sungai air dan sungai api. Dajjal akan menggunakankedua-duanya ini untuk menguji iman org Islam kerana hakikat yg benar adalahsebalik dari apa yg kelihatan. Apa yg dikatakan Syurga itu sebenarnya Nerakadan apa yg dikatakannya Neraka itu adalah Syurga.
3. Kepantasan perjalanan dan Negeri-Negeri yang tidak dapat dimasukinya:
Kepantasan yg dimaksudkan ini tidak ada pada kenderaan org dahulu. Kalauhari ini maka bolehlah kita mengatakan kepantasan itu seperti kepantasanjet-jet tempur yg digunakan oleh tentera udara atau lebih pantas lagidaripada kenderaan tersebut sehinggakan beribu-ribu kilometer dapat ditempuhdalam satu jam"… Kami bertanya: Wahai Rasulullah! Bagaimana kepantasan perjalanannya diatas muka bumi ini?Nabi menjawab:"Kepantasan perjalanannya adalah seperti kepantasan "Al Ghaist" (hujan atauawan) yang dipukul oleh angin yang kencang." H.R Muslim
Namun demikian, Dajjal tetap tidak dapat memasuki dua Bandar suci umat Islamiaitu Makkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwarah.
4. Bantuan Syaitan-Syaitan untuk memperkukuhkan kedudukannya:
Syaitan juga akan bertungkus-lumus membantu Dajjal. Bagi syaitan, inilahmasa yg terbaik utk menyesatkan lebih ramai lagi anak cucu Adam a.s.
Akhlaq Tanpa Jilbab Atau Jilbab Tanpa Akhlaq
Buat apa berkerudung kalau kelakuan rusak benarkah? Perempuan yang baik adalah yang bagus agamanya, yang dimaksud ‘agamanya’ adalah agama dalam hati bukan dalam penampilan.
Pertanyaan, “Berarti lebih bagus perempuan tidak berkerudung tapi baik kelakuannya (beragama) daripada perempuan berkerudung yang tidak beragama (tidak baik kelakuannya)?
Jawab: “
Yang lebih bagus adalah perempuan yang berkerudung dan beragama sekaligus.”Kenapa? Realitas memperlihatkan kepada kita bahwa perempuan berkerudung lebih banyak yang beragama ketimbang perempuan yang tidak memakai kerudung. Jika ada perempuan tak memakai kerudung tapi beragama (berakhlaq), maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan tak berkerudung yang rata-rata kurang berakhlaq. Begitu pula jika ada perempuan berkerudung tapi tidak/kurang beragama, maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan berkerudung yang rata-rata beragama.
Kerudung adalah setengah petunjuk kalau wanita yang memakai kerudung tersebut adalah wanita beragama, setengahnya lagi adalah hati atau perilaku kesehariannya. Bila perilaku keseharian seorang wanita muslimah sudah bagus namun belum berkerudung, segera lengkapi dengan kerudung, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna. Begitu pula jika seorang wanita muslimah sudah berkerudung, namun akhlaq atau perilaku kesehariannya masih tidak baik, segera lengkapi dengan akhlaq yang baik, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna. Jadi, jangan ada lagi orang yang berkata “Buat apa berkerudung kalau kelakuan seperti wanita tak beragama (tidak baik), lebih baik tidak berkerudung!!” Pernyataan itu keliru karena beberapa alasan:
Pertama: Alasan Syar’iPernyataan tersebut sama dengan menyeru perempuan untuk melanggar apa yang telah Allah perintahkan kepada wanita muslimah. Di dalam Al-Quran Allah berfirman: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)
Kedua: Alasan LogisDikatakan sebelumnya bahwa wanita muslimah yang baik akhlaqnya namun tak berkerudung baru setengahnya menunjukkan kalau wanita tersebut beragama, karena setengahnya lagi adalah kerudung, berarti wanita yang tidak baik kelakuannya dan tidak berkerudung, tidak setengah pun menunjukkan bahwa wanita tersebut beragama. Maka, bukankah ini lebih parah nilainya di mata agama? Oleh karena itulah pernyataan di atas tidak menjadi solusi yang tepat.
Solusi yang TepatBagi wanita muslimah yang sudah berkerudung dan merasa kalau akhlaq atau perilakunya masih jauh dari akhlaq seorang wanita muslimah yang sebenarnya, tidak perlu terhasut dengan pernyataan “Buat apa pakai kerudung, kalau…. dst” lantas melepas kerudungnya karena malu.
Solusi yang bijak adalah, biarkan kerudung itu tetap melekat bersamanya sembari berusaha untuk terus mengadakan perbaikan akhlaq atau perilakunya.
Pernyataan Lain“Kerudungi hati dulu, baru kerudungi penampilan”. Jika pernyataan ini memang pernah terlontar dan pernah ada, alangkah bijak jika pernyataan ini kita ubah menjadi: “Mengerudungi hati tak kalah penting dari mengerudungi penampilan”.
Tentang pernyataan pertama, dikarenakan perbaikan akhlaq adalah proses berkesinambungan seumur hidup yang jelas bukan instan, dan dikarenakan tak ada yang dapat menjamin bagaimana dan seperti apa hari esok dalam kehidupan kita? Masih di atas bumi kah atau di dalam perutnya? Masih memijak kah atau dipijak? Maka menunda berkerudung dengan alasan memperbaiki akhlaq dulu adalah sesuatu yang tidak semestinya dilakukan oleh wanita muslimah mana pun.
Adapun pernyataan kedua, memang demikianlah adanya, bacalah Al-Quran dan tadabburi maknanya, maka kita temukan bahwa hampir setiap kali Allah berfirman tentang wanita muslimah yang baik (beragama), isinya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berperilaku?” selebihnya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berpenampilan?”. Jika berkenan bacalah QS. An-Nur ayat 31, At-Tahrim ayat 5, 10, 11 dan 12, dan seterusnya.
Pernyataan berikutnya adalah:“Kerudung itu bukan inti dari Islam!” Ya, saya pribadi setuju, memang bukan inti dari Islam, tapi bagian penting dari Islam yang jika bagian itu tidak ada, maka terlalu sulit untuk dikatakan “Ini Islam” sama sulitnya untuk dikatakan “Ini bukan Islam”. Dikatakan wanita muslimah sulit karena tidak pernah mau pakai kerudung, dikatakan bukan wanita muslimah juga sulit, karena shalat, zakat dan ibadah-ibadah lainnya tetap dikerjakan, juga akhlaqnya adalah akhlaq wanita muslimah.
Kalau saya ibaratkan, hal ini seperti bangunan rumah yang tak nampak seperti rumah, namun lebih tampak seperti gudang; berjendela tanpa kaca, tanpa lantai ubin, dan tanpa atap dan seterusnya. Dikatakan rumah sulit, karena dari luar hampir tak dapat dibedakan dengan gudang. Dikatakan bukan rumah juga sulit, karena ternyata penghuninya lengkap, pasangan suami istri dan satu anak lelaki. Jendela berkaca, pintu, atap, dan lantai ubin memang bukan bagian inti dari rumah, tapi tanpa adanya semua itu, sebuah bangunan akan kehilangan identitasnya sebagai rumah, konsekuensinya, orang-orang akan menyangka kalau bangunan tersebut adalah gudang tak berpenghuni.
Kerudung atau jilbab adalah identitas seorang muslimah (wanita beragama Islam). Kerudung lah yang memberi isyarat kepada lelaki-lelaki muslim bahkan semua lelaki bahwa yang mengenakannya adalah wanita terhormat, sehingga sangat tidak pantas direndahkan dalam pandangan mereka, kata-kata mereka, maupun perbuatan mereka (para lelaki). Allah SWT berfirman: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)
Kesimpulan“Identitas seorang wanita muslimah itu adalah jilbab dan akhlaqnya, akhlaq tanpa jilbab kurang, sama kurangnya dengan jilbab tanpa akhlaq”
Tutuplah Auratmu Duhai Wanita
Tutuplah Auratmu Duhai Wanita Dalam hidup ini, kita hidup dalam lingkungan masyarakat tiap apa yang kita buat pastinya dilihat, diperhatikan dan mengundang tanggapan orang.
Tak kiralah apa yang kita makan,apa yang kita minum,kerja kita,pakaian kita dan sebagainya bagai mencerminkan siapa kita setidak-tidaknya pada pandangan orang lain.Walaupun mungkin kita tidak seperti apa yang terpamer, tetapi itulah hakikatnya.Mereka yang disekeliling pastinya akan menganggap kita seperti apa yang mereka nampak.Misalnya dalam soal berpakaian,mungkin bagi lelaki agak selamat daripada diberi tanggapan yang tidak menyenangkan,tetapi lain halnya dengan kaum wanita.Soal berpakaian ternyata sesuatu yang mesti dititikberatkan.Bukan saja demi menjaga penampilan tetapi agar terhindar dari pandangan dan tanggapan serong masyarakat sekeliling.Apatah lagi,cara seseorang berpakaian bagaikan penyampaian mesej tersembunyi yang disampaikan pada orang yang memandangnya.
Bagi wanita yang beragama Islam, berpakaian baik dan menutup aurat merupakan kewajipan dan tuntutan agama. Ini kerana seseorang wanita yang menutup aurat itu secara tidak langsung dia mengatakan kepada semua khususnya kepada kaum lelaki, "Matikanlah niatmu menjamu pandangan matamu dan tundukkanlah ia. Aku bukan untuk dinikmati karena aku bukanlah milikmu dan engkau juga bukan kepunyaanku. Aku hanyalah miliknya orang yang dihalalkan Allah untukku.Akulah yang berhak ke atas diriku dan aku tidak terikat dengan sesiapa pun. Aku tidak tertarik akan sesiapa kerana darjatku lebih tinggi dan aku lebih terhormat dari mereka yang sengaja mempamerkan keindahannya sebagai hidangan mata mata jalang."
Secara halus dia memaksa lelaki-lelaki menundukkan pandangan dan menghormati dirinya.
Sementara wanita yang dengan sengaja membuka aurat dan sengaja menampakkan keindahan juga kemolekan tubuhnya secara tidak langsung akan dipandang terutama oleh lelaki-lelaki sang buaya seolah-olah mengatakan,"Bukalah matamu tajamkanlah pandanganmu. Pakailah spectacles jika rabun jika kabur. Aku datang menjamu. Lihatlah kecantikan wajahku, nikmatilah keindahan tubuh gebuku sepuas-puas kau mahu.Berapa ramaikah yang mau memandangku?
Berapa ramaikah yang mahu mendekatiku?vBerapa ramaikah yang mau senyum dan menelan liur idamkan aku?vBerapa ramaikah yang mahu berkata 'oh!cantiknya dia..mantap!'?"
Wanita sebegini ibarat ikan yang sengaja mengikat diri dipukat.Sengaja meletakkan dirinya sebagai mangsa lelaki lelaki penggoda yang mengejar keseronokan dunia dan suka mempermainkan wanita hingga akhirnya terjerumus ke arah malapetaka dan kehancuran.
Demikianlah....duhai wanita-wanita yang kukasihi dan kuhormati semuaTUTUPLAH AURATMU!!
BAGAIMANA TURUNNYA WAHYU
أخبرنا عمرو بن يزيد قال ثنا سيف بن عبيد الله قال ثنا سوار عن سعيد عن قتادة عن الحسن عن حطان بن عبد الله عن عبادة بن الصامت قال كان نبي الله إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ الْوَحْىُ كُرِبَ لِذَلِكَ وَتَرَبَّدَ لَهُ
Dari ‘Ubadah bin Ash Shamit Radhiyallahu’anhu, dia berkata: “adalah Nabi SAW Apabila wahyu sedang turun kepadanya, beliau kesusahan karenanya dan wajahnya berubah menjadi ke hitam-hitaman”.
Hadits pembuka pertemuan majlis al-Quran kita kali ini berkaitan tentang keadaan nabi SAW saat menerima wahyu al-Quran, keadaan tersebut seringkali disaksikan oleh para sahabat dan tidak terkecuali ‘Ubadah bi ash-Shamit, dan tentunya dalam ilmu hadits, hadits tersebut dinamakan ‘hadits fi’liyah’.
Banyak hadits yang menceritakan keadaan Nabi SAW ketika menerima wahyu, diantaranya adalah yang tertulis dalam layar BB kita atau media apapun yang digunakan saat ini, Beliau merasa kesusahan dan bahkan membuat wajah tampan beliau berubah kehitaman, ini merupakan kenyataan tentang ‘beratnya’ setiap huruf al-Quran, dan tentunya sekaligus menunjukan betapa dahsyatnya ‘kekuatan’ yang tersimpan pada setiap kata didalamnya.
Beliau adalah kekasihNya, beliau dicintai semua Malaikat dan bahkan semesta, Beliau tak memiliki dosa, bahkan setiap detik beliau dalam penjagaanNya, tak urung ketika ayat2 suci ‘masuk’ kedalam dadanya membuatnya merasakan kesusahan, rasa berat, kelelahan dan bahkan pernah sebabkan beliau tak sadarkan diri. Maha Suci Allah dengan segala firmanNya, Dia yang telah memilih hamba-hambaNya untuk ‘berjuang’ dan ‘mengemis’ agar 30 Juz al-Quran bersemayam di dada, seperti yang juga dilakukan oleh sahabat2 nabi SAW.
Inilah
mengapa Allah berpesan secara khusus bagi para pencinta al-Quran, agar
mempunyai kesabaran yang lebih dalam menghafal, tetaplah optimis dan
bersemangat, tugas kita hanya berusaha dengan seluruh kemampuan, lalu
segala keputusan kembali kepadaNya, Dia yang ‘terus’ memilih kita atau
bahkan ‘mengeliminasi’ dari barisan ahlul quran, (na’udzu billahi).
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآَنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآَنَهُ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS. Al-Qiyamah : 16-19)
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآَنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآَنَهُ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS. Al-Qiyamah : 16-19)
Ayat
ini sangat jelas, Allah memilih hambaNya,Dia yang mengumpulkan 30 juz
al-Quran didalam dada setiap anak manusia, bahkan Dia yang
mengajarkannya secara langsung, maka ayat ini juga mengindikasikan
setiap sedang bersama dengan al-Quran maka sesungguhnya sedang belajar
kepada Allah, bila sudah Dia yang mengajarkan rasanya tak pantas ada
kekhawatiran bagi sang murid untuk tidak bisa ‘menguasai’ al-Quran.
Tanamkan saja kesabaran didalam hati tanpa batas, sadari betul bahwa yang sedang dilakukan adalah sebuah usaha meraih kebahagiaan ketika nanti sendirian didalam kubur, al-Quran akan menemanimu, al-quran akan meramaikan kuburmu, tubuhmu utuh, tak mungkin malaikat adzab akan menyentuhmu, karena tubuhmu berbalut firman2Nya. Bahkan ketika lisanmu sedang mengulang2 ayatNya demi “terekam’ dalam memori hafalanmu, sesungguhnya engkau sedang membuat dua buah mahkota yang bercahaya untuk dipersembahkan kepada kedua orangtuamu di hari kiamat nanti.
Teruslah
berjuang wahai saudara dan saudariku, biarkan matamu menatap orang2
yang hanya ‘disibukkan’ dengan urusan dunia, jadikanlah pelajaran dan
jangan engkau risau, karena yang sedang kau kejar saat ini bersama
al-quran melebihi dunia beserta isinya. JanjiNya benar dan tidak
terbantahkan, teruslah ‘membelah’ kesunyian malam dengan lantunan bacaan
mulia, jangan menyerah dan jangan mudah merasa lelah, tersenyumlah…
karena yang kau lakukan sekarang adalah yang pernah dilakukan oleh para
penghuni syurga.Tanamkan saja kesabaran didalam hati tanpa batas, sadari betul bahwa yang sedang dilakukan adalah sebuah usaha meraih kebahagiaan ketika nanti sendirian didalam kubur, al-Quran akan menemanimu, al-quran akan meramaikan kuburmu, tubuhmu utuh, tak mungkin malaikat adzab akan menyentuhmu, karena tubuhmu berbalut firman2Nya. Bahkan ketika lisanmu sedang mengulang2 ayatNya demi “terekam’ dalam memori hafalanmu, sesungguhnya engkau sedang membuat dua buah mahkota yang bercahaya untuk dipersembahkan kepada kedua orangtuamu di hari kiamat nanti.
Wallahu a’lam Bisshowaab
Menyembunyikan Kebaikan & Takut Kepada Allah
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ مِنْ رَجُلٍ غَزَا في سَبِيلِ اللهِ فَانْهَزَمَ يَعْنِي أَصْحَابَهُ فَعَلِمَ مَا عَلَيْهِ فَرَجَعَ حَتَّى أُهَرِيْقَ دَمُهُ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لِمَلائِكَتِهِ : انْظُرُوا إِلى عَبْدِي رَجَعَ رَغْبَةً فِيْمَا عِنْدِي وَشَفَقَةً مِمَّا عِنْدِي حَتَّى أُهَرِيْقَ دَمُهُ .
Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: Tuhan-kita Azza wa Jalla 'heran' akan seorang lelaki yang berperang di jalan Allah kemudian berjumpa, yakni dengan sahabatnya. Lalu Sahabatnya mengetahui apa yang terjadi padanya (luka2 habis berperang), maka dia (bergegas) pulang sampai (semakin) bercucuran darahnya. Maka Allah yang Maha Tinggi berfirman kepada para malaikat: "Lihatlah oleh kalian akan hamba-Ku yang pulang karena takut azab yang ada di sisi-Ku dan mengharap pahala yang ada di sisi-Ku sampai-sampai bercucuran darahnya." (HR. Abu Daud : 2536)
Pengajian ini sangat penuh dengan muatan keteladanan, tentang seorang dari hamba Allah yang telah berjuang demi mendapatkan pahala yang besar dariNya dan takut terhadap ancaman dan siksaNya.
Lelaki yang diceritakan oleh Nabi SAW pada hadits ini berusaha menutupi perbuatan baiknya dari pengetahuan sahabat2nya karena kekhawatiran yang teramat tinggi bila pada akhirnya menimbulkan 'riya' didalam hatinya, sehingga dia berlari pulang dan darah bercucuran dari bekas lukanya.
Riya
adalah penyakit hati, sifat tersebut akan menghapus 'nilai' dari
kebaikan yang telah dilakukan, karena berarti melakukannya bukan karena
Allah, tetapi berharap 'pengakuan' dari manusia, inilah yang sebabkan
lelaki dalam hadits ini berlari demi menjaga 'suasana' hati dari
pengaruh riya yang mungkin saja akan terjadi.
وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَى إِلَّا ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى وَلَسَوْفَ يَرْضَى
" tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi, dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (QS. al-Lail : 19-21)
وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَى إِلَّا ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى وَلَسَوْفَ يَرْضَى
" tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi, dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (QS. al-Lail : 19-21)
Ayat ini menceritakan tentang orang2 yang bertakwa ketika melakukan kebaikan, mereka mempunyai tekad kuat ketika melakukannya hanya berharap keridhoan dariNya dan bukan karena berharap yang lainnya. Mereka akan terus berusaha mengisi waktunya dengan kegiatan2 yang Allah perintahkan karena orientasi hidupnya adalah berharap mendapat kebahagiaan yang abadi, saat dikumpulkan bersama para Nabi, syuhada dan orang2 sholih nantinya, terlebih saat diperkenankan 'menatap' wajahNya.
Banyak cara yang syeitan gunakan buat 'menggelincirkan' manusia, maka berhati-hatilah dalam berbuat, karena pengetahuan Allah 'menembus' kedalam hati siapa saja, tak ada yang tersembunyi dariNya.
"NIYYATUL MU'MINI KHOIRUN MIN 'AMALIHI" (niatnya orang yang beriman lebih baik dari perbuatannya).
Wallahu A'lam Bisshowaab.
Cara Menghapal Al-Quran
sebenernya buat bisa hapal Al-Quran itu tidak la susah. berikut ini ada kiat-kiat untuk bisa hapal Al-Quran yang di kuti langsung dari Tausiyah Ust Yusuf Mansur
#STEP 1. DENGERIN bacaan Imam al Ghomidi, per ayat (jika pendek), atau per baris, jika ayatnya panjang, SEBANYAK 20x, sambil MEGANG mushaf, liatin terus dengan mata (bila bisa melihat), dan ikutin bacaannya DALAM HATI. Jangan kurang dari 20x, dan jangan merasa bisa, jangan merasa hafal. Untuk dapetin Ukuran Hafalan Bagus. Sebab kadang, baru 3x dah merasa hafal, inget, padahal itu baru hafalan SEMENTARA.
#STEP 2: Dengerin ULANG sebanyak 20x LAGI, tapi sambil buka tutup mata. Ganjil, buka mata, genap, tutup mata. Bacaan pertama di 20x kedua, buka mata, bacaan kedua, tutup mata, dan terus begitu, sampe 20x. Jangan merasa lelah. Dan jangan ampe kurang. Untuk dapetin bener-bener Ukuran Hafalan Bagus. Kalo engga, nanti akan terus kayak ngafal dari 0 bila ga disiplin.
Di step 2 ini, lisan mulai ikut bacaan imam dengan dikeraskan, tidak dalam hati.
#STEP 3: kita baca 20x, TANPA bacaan Imam, dan TANPA melihat mushaf sama sekali.
#Ulangi langkah yang sama untuk ayat 2, 3, 4, dan 5. Atau untuk baris 2, 3, 4, 5 jika ayatnya panjang.
Setiap mau melangkah ke ayat berikutnya, ULANGI dulu ayat atau baris yang telah dihafal, minimal 3x.
Misal, sebelum ayat/baris ke-3 dimulai, maka ayat/baris 1&2 nya diulang dulu 3x. Baru kemudian lanjut ayat/baris ke-3 dg cara yg sama.
Kalau sudah 5 ayat atau 5 baris, maka ulangi keseluruhannya 20x, jangan menambah dulu.
Lakukan langkah yang sama u/ ayat 6, 7, 8, 9, 10, atau baris 6, 7, 8, 9, 10. Juga untuk ayat 11, 12, 13, 14, 15, atau baris 12, 13, 14, 15.
Jika megangnya adalah ukuran baris, maka 15 baris itu, 1 halaman muka.
Juz 30 itu, 271 baris, termasuk ayat2 dan surah2 yg sudah familiar duluan: surah2 pendek. Jika sama sekali ga hafal, totalnya 271 baris.
Jika sehari sebaris saja, 271 hari. Dan itu sama dengan 9 bulan. Jika ngafalnya 2 baris, 4,5 bulan. Jika ngafalnya 4 baris, sktr 2 bulan, dah hafal Juz ‘amma. InsyaAllah dengan hafalan yg baik, dan suaranya relatif sama dengan suara imam yang dipilih. InsyaaAllah kebawa dah.
Dari 7 hari, sisakan 1 hari u/ hanya muroja’ah (mengulang) hafalan yg dihafal, tanpa tambahan.
#STEP 1. DENGERIN bacaan Imam al Ghomidi, per ayat (jika pendek), atau per baris, jika ayatnya panjang, SEBANYAK 20x, sambil MEGANG mushaf, liatin terus dengan mata (bila bisa melihat), dan ikutin bacaannya DALAM HATI. Jangan kurang dari 20x, dan jangan merasa bisa, jangan merasa hafal. Untuk dapetin Ukuran Hafalan Bagus. Sebab kadang, baru 3x dah merasa hafal, inget, padahal itu baru hafalan SEMENTARA.
#STEP 2: Dengerin ULANG sebanyak 20x LAGI, tapi sambil buka tutup mata. Ganjil, buka mata, genap, tutup mata. Bacaan pertama di 20x kedua, buka mata, bacaan kedua, tutup mata, dan terus begitu, sampe 20x. Jangan merasa lelah. Dan jangan ampe kurang. Untuk dapetin bener-bener Ukuran Hafalan Bagus. Kalo engga, nanti akan terus kayak ngafal dari 0 bila ga disiplin.
Di step 2 ini, lisan mulai ikut bacaan imam dengan dikeraskan, tidak dalam hati.
#STEP 3: kita baca 20x, TANPA bacaan Imam, dan TANPA melihat mushaf sama sekali.
#Ulangi langkah yang sama untuk ayat 2, 3, 4, dan 5. Atau untuk baris 2, 3, 4, 5 jika ayatnya panjang.
Setiap mau melangkah ke ayat berikutnya, ULANGI dulu ayat atau baris yang telah dihafal, minimal 3x.
Misal, sebelum ayat/baris ke-3 dimulai, maka ayat/baris 1&2 nya diulang dulu 3x. Baru kemudian lanjut ayat/baris ke-3 dg cara yg sama.
Kalau sudah 5 ayat atau 5 baris, maka ulangi keseluruhannya 20x, jangan menambah dulu.
Lakukan langkah yang sama u/ ayat 6, 7, 8, 9, 10, atau baris 6, 7, 8, 9, 10. Juga untuk ayat 11, 12, 13, 14, 15, atau baris 12, 13, 14, 15.
Jika megangnya adalah ukuran baris, maka 15 baris itu, 1 halaman muka.
Juz 30 itu, 271 baris, termasuk ayat2 dan surah2 yg sudah familiar duluan: surah2 pendek. Jika sama sekali ga hafal, totalnya 271 baris.
Jika sehari sebaris saja, 271 hari. Dan itu sama dengan 9 bulan. Jika ngafalnya 2 baris, 4,5 bulan. Jika ngafalnya 4 baris, sktr 2 bulan, dah hafal Juz ‘amma. InsyaAllah dengan hafalan yg baik, dan suaranya relatif sama dengan suara imam yang dipilih. InsyaaAllah kebawa dah.
Dari 7 hari, sisakan 1 hari u/ hanya muroja’ah (mengulang) hafalan yg dihafal, tanpa tambahan.
CINTA KEPADA ALLAH
Bahasa sehari-hari mengenal istilah Allah yang di atas, atau Allah yang
di langit. Langit sering didefinisikan sebagai batas pandangan mata.
Dalam al Quran langit disebut dengan nama sama' atau samawat. Dalam
bahasa Arab, sama' mengandung dua artinya, pertama, ma `ala ka, apa yang
di atasmu. Dari pengertian ini maka plafon di rumah kita di sebut
langit-langit. Ke dua, langit adalah ungkapan tentang sesuatu yang tidak
terjangkau oleh akal kita. Jika disebut surga berada di langit artinya
akal kita tidak akan mampu melacak keberadaannya. Surga dapat dilacak
dengan keyakinan atau iman, bukan dengan rasio. Bahasa sehari-hari juga
suka menggunakan istilah langit meski kurang tepat, misalnya menyebut
kecantikan luar biasa dari seorang gadis dengan menyebut cantiknya
selangit, kekayaan yang sangat banyak disebut kayanya selangit , dan
ungkapan semisal lainnya.
Orang beriman meyakini bahwa di balik alam raya ini ada alam langit atau `alam malakut satu tempat yang sangat tinggi dimana blue print alam raya dengan segala kehidupannya itu berada dan dikendalikan, dan Allah bersemayam di `arasy Nya mengendalikan kekuasaanya melalui sistem sunnatulllah, dan Dia mengontrolnya secara detail hingga jatuhnya selembar daunpun berada dalam kontrol Nya.
Di mana letak alam malakut dan dimana `arasy Allah, akal kita tidak mungkin menjangkaunya, karena Allah Maha Tinggi sedangkan kita sebagai hamba memiliki keterbatasan yang sangat banyak. Meski demikian, dengan sifat Rahman dan Rahim Nya Allah memberi infrastruktur kepada kita untuk dapat mendekat kepada Nya. Allah menempatkan sifat ilahiah pada setiap diri kita, apa yang dalam Islam disebut nasut. Allah juga menempatkan cahaya (nur) Nya pada setiap hati (qalb) kita, disebut nuraniyyun (hati nurani) yang memiki kapasitas pandangan batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala, oleh Al Quran disebut bashirah (Q/75:14-15).
Jika sifat Allah al Bashir mengandung arti Allah mampu melihat sesuatu secara total tanpa alat bantu, maka bashirah nya kita atau hati nurani kita juga dapat menembus dinding-dinding pembatas, secara internal melihat diri sendiri, introspeksi secara jujur dan hati nurani tidak bisa diajak berdusta, sedangkan secara ekternal, nurani dapat menerobos ke alam malakut bercengkerama dengan ruhaniyyun (malaikat atau arwah manusia) dan bahkan bisa bercengkerama dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. D
Dengan sifat Nasut itulah kita pada suatu ketika rindu kepada Allah. Sifat Nasut itu bagaikan api yang selalu menyala ke atas. Orang yang sedang rindu kepada Allah, maka pandangannya selalu ke atas mencari Dia Yang Maha Tinggi di 'alam atas'. Kerinduan kepada ALlah itu memuncak ketika seseorang berhasil bekerja keras mensucikan jiwanya (tazkiyyat an nafs) hingga jiwanya mencapai tingkat nafs al muthma'innah, yakni jiwa yang tenang, atau ketika Allah berkenan mendekati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki Nya sehingga orang itu dalam waktu cepat tersucikan jiwanya (Q/ 4:49)
Di sisi lain, Allah senantiasa merindukan kehadiran kita ke haribaan rahmat Nya. Allah sangat antausias menyongsong hambanya. Jika kita mendekati Allah dengan jalan kaki, maka Allah akan menyongsongnya dengan berlari. Itulah yang menyebabkan ada orang yang sudah sejak kecil menjadi muslim tetapi tak kunjung berkualitas, sementara ada orang yang belum lama menjadi muaallaf tetapi sudah mencapai pencerahan Ilahiah, karena ia disongsong oleh Sang Khaliq. Di satu pihak, kita memang memiliki bakat kerinduan kepada Allah dan untuk itu ia berusaha naik ke atas(taraqqi), di pihak lain, Allah yang merindukan kehadiran kita, berlari turun dari atas(tanazul) menyongsong setiap hambaNya yang berusaha keras mendekat (taqarrub). Ada tiga jalan yang kita bisa tempuh untuk menggapai cinta Allah.
Pertama: Thariqat as Syar`iy, jalan syari'at. Siapa saja yang berusaha keras konsisten mengikuti syari'at Islam, sholatnya, puasanya, berdagangnya, berpolitiknya, dan seluruh aspek hidupnya, maka dijamin ujungnya adalah dar al muqarrabin, wisma khusus untuk orang-orang dekat. Siapa saja yang secara konsisten mengikuti petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam hidupnya, yakni mengikuti aturan Allah tentang halal-haram, mengerjakan perintahNya dan menjauhi larangan Nya, maka ia berpeluang untuk mendapatkan Cinta Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kedua: Thariqat ahl az zikr, jalannya ahli zikir. Barang siapa yang dalam hidupnya selalu berzikir maka ia akan sampai ke tingkat dekat dengan Allah. Zikir artinya menyebut atau mengingat. Orang awam berzikir dengan mulutnya dalam bentuk menyebut asma Allah atau kalimah thayyibah, meski hatinya belum tentu ingat Allah. Lihatlah orang yang ikut zikir bersama Arifin Ilham, ia bisa menangis haru interospeksi. Jika zikir itu dipelihara, dikerjakan secara sistemik, maka lama-kelamaan hatinya menjadi dekat dengan Allah yang selalu disebutnya. Sementara orang khawas berzikir dengan hatinya. Keadaan apapun yang dihadapinya dalam hidup, hatinya tetap mengingat Allah. Ada beberapa tingkatan zikir, yaitu zikir jahr, zikir keras-keras, kemudian meningkat ke zikir khofiy, zikir yang tidak mengeluarkan suara tetapi penuh d dalam hati, kemudian tafakkur, berkelana secar ruhaniyyah merenungkan kebesaran Allah, dan yang tertinggi adalah tadabbur, yakni melihat benda atau alampun langsung terbayang Sang Pencipta (tadabbur `alam).
Ketiga: Thariqat mujahidat as Syaqa, memilih jalan yang sulit. Bagi penganut jalan ini, hidup secara biasa itu berarti tidak tahu diri dan kurang bersyukur nikmat Allah. Ia paksakan dirinya mengerjakan yang sunnah karena yang wajib sudah lewatinya dengan riang gembira, ia haramkan untuk dirinya apa yang subhat. Ia lebih suka tidur di kasur yang sederhana, meski memiliki kamar yang mewah, ia memakan makanan yang tidak enak meski tersedia makanan lezat, ia pergi ke masjid dengan jalan kaki meski punya mobil, semua yang sulit menjadi pilihannya untuk menggapai cinta Allah. Baginya menempuh kesulitan dalam perjalanan mendekat kepada Allah itu satu kenikmatan, dan baginya pula, menggunakan fasilitas kemudahan dalam perjalanan rasanya malu dihadapan Allah. Jalan yang tidak mudah, tidak semua orang sanggup memilih jalan sulit untuk menggapai cinta Allah.
Orang beriman meyakini bahwa di balik alam raya ini ada alam langit atau `alam malakut satu tempat yang sangat tinggi dimana blue print alam raya dengan segala kehidupannya itu berada dan dikendalikan, dan Allah bersemayam di `arasy Nya mengendalikan kekuasaanya melalui sistem sunnatulllah, dan Dia mengontrolnya secara detail hingga jatuhnya selembar daunpun berada dalam kontrol Nya.
Di mana letak alam malakut dan dimana `arasy Allah, akal kita tidak mungkin menjangkaunya, karena Allah Maha Tinggi sedangkan kita sebagai hamba memiliki keterbatasan yang sangat banyak. Meski demikian, dengan sifat Rahman dan Rahim Nya Allah memberi infrastruktur kepada kita untuk dapat mendekat kepada Nya. Allah menempatkan sifat ilahiah pada setiap diri kita, apa yang dalam Islam disebut nasut. Allah juga menempatkan cahaya (nur) Nya pada setiap hati (qalb) kita, disebut nuraniyyun (hati nurani) yang memiki kapasitas pandangan batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala, oleh Al Quran disebut bashirah (Q/75:14-15).
Jika sifat Allah al Bashir mengandung arti Allah mampu melihat sesuatu secara total tanpa alat bantu, maka bashirah nya kita atau hati nurani kita juga dapat menembus dinding-dinding pembatas, secara internal melihat diri sendiri, introspeksi secara jujur dan hati nurani tidak bisa diajak berdusta, sedangkan secara ekternal, nurani dapat menerobos ke alam malakut bercengkerama dengan ruhaniyyun (malaikat atau arwah manusia) dan bahkan bisa bercengkerama dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. D
Dengan sifat Nasut itulah kita pada suatu ketika rindu kepada Allah. Sifat Nasut itu bagaikan api yang selalu menyala ke atas. Orang yang sedang rindu kepada Allah, maka pandangannya selalu ke atas mencari Dia Yang Maha Tinggi di 'alam atas'. Kerinduan kepada ALlah itu memuncak ketika seseorang berhasil bekerja keras mensucikan jiwanya (tazkiyyat an nafs) hingga jiwanya mencapai tingkat nafs al muthma'innah, yakni jiwa yang tenang, atau ketika Allah berkenan mendekati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki Nya sehingga orang itu dalam waktu cepat tersucikan jiwanya (Q/ 4:49)
Di sisi lain, Allah senantiasa merindukan kehadiran kita ke haribaan rahmat Nya. Allah sangat antausias menyongsong hambanya. Jika kita mendekati Allah dengan jalan kaki, maka Allah akan menyongsongnya dengan berlari. Itulah yang menyebabkan ada orang yang sudah sejak kecil menjadi muslim tetapi tak kunjung berkualitas, sementara ada orang yang belum lama menjadi muaallaf tetapi sudah mencapai pencerahan Ilahiah, karena ia disongsong oleh Sang Khaliq. Di satu pihak, kita memang memiliki bakat kerinduan kepada Allah dan untuk itu ia berusaha naik ke atas(taraqqi), di pihak lain, Allah yang merindukan kehadiran kita, berlari turun dari atas(tanazul) menyongsong setiap hambaNya yang berusaha keras mendekat (taqarrub). Ada tiga jalan yang kita bisa tempuh untuk menggapai cinta Allah.
Pertama: Thariqat as Syar`iy, jalan syari'at. Siapa saja yang berusaha keras konsisten mengikuti syari'at Islam, sholatnya, puasanya, berdagangnya, berpolitiknya, dan seluruh aspek hidupnya, maka dijamin ujungnya adalah dar al muqarrabin, wisma khusus untuk orang-orang dekat. Siapa saja yang secara konsisten mengikuti petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam hidupnya, yakni mengikuti aturan Allah tentang halal-haram, mengerjakan perintahNya dan menjauhi larangan Nya, maka ia berpeluang untuk mendapatkan Cinta Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kedua: Thariqat ahl az zikr, jalannya ahli zikir. Barang siapa yang dalam hidupnya selalu berzikir maka ia akan sampai ke tingkat dekat dengan Allah. Zikir artinya menyebut atau mengingat. Orang awam berzikir dengan mulutnya dalam bentuk menyebut asma Allah atau kalimah thayyibah, meski hatinya belum tentu ingat Allah. Lihatlah orang yang ikut zikir bersama Arifin Ilham, ia bisa menangis haru interospeksi. Jika zikir itu dipelihara, dikerjakan secara sistemik, maka lama-kelamaan hatinya menjadi dekat dengan Allah yang selalu disebutnya. Sementara orang khawas berzikir dengan hatinya. Keadaan apapun yang dihadapinya dalam hidup, hatinya tetap mengingat Allah. Ada beberapa tingkatan zikir, yaitu zikir jahr, zikir keras-keras, kemudian meningkat ke zikir khofiy, zikir yang tidak mengeluarkan suara tetapi penuh d dalam hati, kemudian tafakkur, berkelana secar ruhaniyyah merenungkan kebesaran Allah, dan yang tertinggi adalah tadabbur, yakni melihat benda atau alampun langsung terbayang Sang Pencipta (tadabbur `alam).
Ketiga: Thariqat mujahidat as Syaqa, memilih jalan yang sulit. Bagi penganut jalan ini, hidup secara biasa itu berarti tidak tahu diri dan kurang bersyukur nikmat Allah. Ia paksakan dirinya mengerjakan yang sunnah karena yang wajib sudah lewatinya dengan riang gembira, ia haramkan untuk dirinya apa yang subhat. Ia lebih suka tidur di kasur yang sederhana, meski memiliki kamar yang mewah, ia memakan makanan yang tidak enak meski tersedia makanan lezat, ia pergi ke masjid dengan jalan kaki meski punya mobil, semua yang sulit menjadi pilihannya untuk menggapai cinta Allah. Baginya menempuh kesulitan dalam perjalanan mendekat kepada Allah itu satu kenikmatan, dan baginya pula, menggunakan fasilitas kemudahan dalam perjalanan rasanya malu dihadapan Allah. Jalan yang tidak mudah, tidak semua orang sanggup memilih jalan sulit untuk menggapai cinta Allah.
RAHASIA TELAPAK TANGAN
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim
“Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi
mereka bahwa Al-Qur’an itu benar, dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi
kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”
(QS. Fusshilat: Ayat 53).
Allahu Akbar .., Allahu Akbar .., Allahu Akbar ..,
Tahukah
sahabat, tanda 99 (Asmaul Husna) ada pada telapak tangan kita. Garis
utama kedua telapak tangan kita (pada umumnya manusia), bertuliskan
angka dalam bahasa Arab yaitu :
|/\ pada telapak tangan kanan, artinya : 18
/\| pada telapak tangan kiri, artinya : 81
Jika
kedua angka ini dijumlahkan, 18+81 = 99, 99 adalah jumlah nama atau
sifat Allah SWT yang dipanggil sebagai Asma-ul Husna (Nama-nama yang
baik) yang terdapat dalam Al-Quran
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci
JAWABAN AL-QURAN ATAS PERTANYAAN MANUSIA
1. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU DIUJI?
QURAN MENJAWAB:
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui oang-orang yg benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
[Surah Al-Ankabut ayat 2-3]
2. KITA BERTANYA: MENGAPA UJIAN SEBERAT INI?
QURAN MENJAWAB:
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,"
[Surah Al-Baqarah ayat 286]
3. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
QURAN MENJAWAB:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
[Surah Al-Baqarah ayat 216]
4. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU MERASA FRUSTRASI?
QURAN MENJAWAB:
"Janganlah kamu bersikap lemah. dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman."
[Surah Al-Imran ayat 139]
5. KITA BERTANYA: BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB:
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyu"
[Surah Al-Baqarah ayat 45]
6. KITA BERTANYA: APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?
QURAN MENJAWAB:
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka.
[Surah At-Taubat ayat 111]
7. KITA BERTANYA: KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
QURAN MENJAWAB:
'Cukuplah Allah bagiku,tidak ada Tuhan selain dariNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal."
[Surah At-Taubat ayat 129]
8. KITA BERKATA: AKU TAK TAHAN!!!!!!
QURAN MENJAWAB:
"......dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."
[Surah Yusuf ayat 12]
9. KITA BERTANYA: MENGAPA HATI INI TIDAK TENANG ?
QURAN MENJAWAB:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
[Ar Ra'd ayat 28]
QURAN MENJAWAB:
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui oang-orang yg benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
[Surah Al-Ankabut ayat 2-3]
2. KITA BERTANYA: MENGAPA UJIAN SEBERAT INI?
QURAN MENJAWAB:
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,"
[Surah Al-Baqarah ayat 286]
3. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
QURAN MENJAWAB:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
[Surah Al-Baqarah ayat 216]
4. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU MERASA FRUSTRASI?
QURAN MENJAWAB:
"Janganlah kamu bersikap lemah. dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman."
[Surah Al-Imran ayat 139]
5. KITA BERTANYA: BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB:
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyu"
[Surah Al-Baqarah ayat 45]
6. KITA BERTANYA: APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?
QURAN MENJAWAB:
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka.
[Surah At-Taubat ayat 111]
7. KITA BERTANYA: KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
QURAN MENJAWAB:
'Cukuplah Allah bagiku,tidak ada Tuhan selain dariNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal."
[Surah At-Taubat ayat 129]
8. KITA BERKATA: AKU TAK TAHAN!!!!!!
QURAN MENJAWAB:
"......dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."
[Surah Yusuf ayat 12]
9. KITA BERTANYA: MENGAPA HATI INI TIDAK TENANG ?
QURAN MENJAWAB:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
[Ar Ra'd ayat 28]
Khasiat Air Putih
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim “… Dan dari pada air, Kami jadikan segala
sesuatu yang hidup…” (QS. Al-Anbiya : 30). Dalam kajian kitab-kitab
tafsir klasik, ayat diatas diartikan bahwa tanpa air, semua akan mati
kehausan.
Sumber-sumber dari Al-Quran yang membahas mengenai air, yaitu: QS.
Fushshilat : 39, QS. An Nahl : 65, QS. Ar Ruum : 24, QS. Al Anbiyaa’ :
30, QS. Al Baqarah : 164, QS. Al Furqaan : 49, QS. Al Jaatsiyah : 5, QS.
Al ‘Ankabuut : 63, QS. Qaaf : 11, QS. Az Zukhruf : 11, QS. Al Hajj : 5
Di Jepang, Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama menemukan
keajaiban tentang air dari percobaannya selama bertahun-tahun. Dr.Masaru
Emoto berhasil mendapatkan foto kristal air pertama di dunia bersama
sahabatnya Kazuya Ishibashi (seorang ilmuwan yang ahli dalam mikroskop).
Foto kristal air ini didapat dengan cara membekukan air pada suhu -25
derajat celcius dan difoto dengan alat foto berkecepatan tinggi.
Hasilnya adalah air ternyata mampu merespon terhadap kata-kata, gambar
serta musik baik secara positif ataupun negatif.
Hasil percobaannya tersebut dapat kita baca dalam bukunya yang telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang berjudul “Mukjizat
Air”. Air murni dari pegunungan di do’akan secara agama Shinto, lalu
didinginkan pada suhu -25 derajat Celcius di sebuah laboratorium.
Hasilnya, ternyata molekul air membentuk Kristal segi enam yang indah.
Percobaan diulangi dengan membaca “Arigato” (Terima Kasih ; bahasa
Jepang) didepan air tadi, kemudian Kristal dari air tersebut kembali
membentuk keindahan yang berbeda. Kemudian percobaan diulangi dengan
diucapkan kata "Setan” pada air tersebut, dan hasilnya ternyata kristal
air tersebut membentuk suatu bentukan yang terlihat mengerikan. Dan
ketika diputarkan musik klasik (Symphoni Mozart), kristal air tersebut
berubah menjadi bentuk bunga.
Ketika percobaan air diteruskan dengan bacaan Islam "Bismilah” (oleh
ulama setempat), spontan Kristal air tersebut kembali mengalami
perubahan bentuk, nampak terlihat keindahan yang menakjubkan yaitu
berbentuk segi enam dengan lima cabang daun berkilauan.

Peristiwa
tersebut bukan sihir, sulap, takhayul ataupun sebab kecanggihan
teknologi. Tetapi nyata, kajian intelektual yang pernah dipresentasikan
dan diperagakan di Markas PBB di New York pada bulan Maret tahun 2005
silam.
Subhanallah… Ternyata air mampu “mendengar”, "membaca” dan “mengerti”
serta “merekam” kata-kata atau pesan, seperti layaknya pita magnetic
(Compact Disc). Air juga ternyata mampu “mentransfer” kata-kata atau
pesan tadi melalui molekul air yang lain.
Penelitian Dr.Masimoto ini pun tidak hanya mencakup air melainkan juga
makanan lainnya yang ternyata mampu memberikan reaksi positif dan
negatif. beliau meneliti pengaruh kata terhadap nasi yang dimasukkan
dalam toples dan masing-masing ditulisi kata yang berbeda.
Yang satu ditulis terima kasih dan yang lainnya ditulisi kata kamu
bodoh, ternyata toples yang ditulisi kata terima kasih tidak basi,
sedangkan yang ditulisi kata kamu bodoh cepat basi bahkan warnanya sudah
berubah menjadi kehitaman.
Inilah rahasianya mengapa kita dianjurkan oleh agama untuk berdoa
sebelum makan/minum. Doa yang baik ternyata akan mampu merubah
air/makanan menjadi sesuatu yang baik bagi tubuh. Dengan temuan ini,
dapat menjawab sekaligus menjelaskan tentang “Mengapa air putih yang
dido’akan bisa menyembuhkan orang sakit?”
Sebelum mengetahui tentang hal ini, mungkin ada dari yang sedang membaca
tulisan ini, dan termasuk saya sendiri pun pernah memiliki anggapan
bahwa orang yang sembuh berkat meminum air putih yang telah dido’akan
tersebut hanya sugesti saja, bahkan mungkin ada yang menganggap hal
tersebut sebagai sesuatu yang konyol atau musyrik?
Akan tetapi, pada kenyataannya, air memang mampu menangkap pesan do’a
kesembuhan, menyimpannya, yang kemudian setelah diminum getarannya
merambat kepada molekul air yang lain yang ada ditubuh si sakit.
Seperti yang kita ketahui, bahwa tubuh kita 75% terdiri atas air, darah
mengandung 82% air dan tulang yang keras pun mengandung 22% air.
Untuk itu marilah kita berhati-hati !, apalagi tubuh kita sendiri
ternyata terdiri dari 70% air. Jika kita memiliki pikiran negatif maka
air dalam tubuh kita juga akan membentuk pola yang negatif. Akibatnya
malah bisa menimbulkan penyakit atau masalah lainnya. Tidaklah
mengherankan jika stress ternyata memberikan kontribusi yang sangat
besar terhadap timbulnya penyakit.
Air putih (air minum) dirumah kita, jika setiap hari dido’akan dengan
khusyu kepada Allah SWT, agar peminumnya sholeh, sehat, cerdas dll.
Niscaya, akan berproses ditubuh , meneruskan pesan/do’a kepada molekul
air yang berada di bagian otak dan pembuluh darah peminumnya.
Dengan izin Allah SWT, pesan/do’a tadi akan dilaksanakan oleh tubuh
tanpa disadari. Bila air minum disuatu kota dido’akan dengan serius
untuk kesholehan, Insya Allah semua penduduk yang meminumnya akan
menjadi baik.
Rasulullah SAW bersabda “Zam-zam lima syuriba lahu” (air zam-zam akan
melaksanakan pesan dan niat bagi yang meminumnya). Barang siapa yang
meminumnya supaya kenyang, maka ia akan kenyang, barang siapa yang
meminumnya untuk menyembuhkan sakit, maka ia akan sembuh.
Subhanallah, ini telah menjelaskan pula mengapa air Zam-zam begitu
berkhasiat karena dia menyimpan do’a jutaan manusia selama ribuan tahun
sejak Nabi Ibrahim a.s.
Bila kita mau merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an tentang air, kita akan
tersentak bahwa masih banyak rahasia Al-Qur’an yang belum kita pahami.
Bahwa air ternyata bukan sekedar benda mati. Dia menyimpan kekuatan,
daya rekam, daya penyembuh dan sifat-sifat lainnya yang mungkin belum
kita ketahui.
Perlu diingat, Islam adalah agama yang lekat dengan air.
Bila kita renungkan berpuluh ayat Al Quran tentang air, kita akan
tersentak bahwa Allah ingin menarik perhatian hamba Nya pada air. Bahwa
air tidak sekadar benda mati. Dia menyimpan kekuatan, daya rekam, daya
penyembuh, dan sifat-sifat aneh lainnya yang menunggu untuk disingkap
oleh manusia. Islam adalah agama yang paling melekat dengan air. Shalat
wajib perlu air wudlu 5 kali sehari. Habis bercampur, suami istri wajib
mandi, dan Mati pun wajib dimandikan.
Tidak ada agama lain yang mengharuskan (baca: mewajibkan) memandikan
jenazah. Tetapi kita belum melakukan Dzikir air. Kita masih perlakukan
air tanpa respek. Kita buang secara mubazir, bahkan kita cemari.
Astaghfirullah.
Ketika segelas air putih terletak di atas meja.Berdiamlah sesaat,
bacalah dengan nama Tuhanmu. Dengan Nama ALLAH Yang Maha Pengasih Lagi
Maha Penyayang. sebelum minum panjatkan doa, lalu bermohonlah hanya
kepada Tuhan, ucapkan ayat-ayat yang suci. Maka, segelas air putih yang
diminum akan memberikan segala keindahannya kepada kita.
Semoga, kedepannya kita dapat memanfaatkan air dengan sebaik-baiknya. Amin. Wallaahu a’lam bish shawab
Tausiah : Jangan Membeci Masa
حدثنا الحميدي حدثنا سفيان حدثنا الزهري عن سعيد بن المسيب عَنْ أبي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ .
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW: Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi berfirman: "Anak cucu Adam menyakitiku dengan mencela masa, padahal Aku adalah (pencipta) masa, di tangan-Ku segala urusan, Aku-lah yang membolak-balik malam dan siang." (HR. Abu Daud : 5274).
Mencela makhluk Allah maka sesungguhnya telah 'menyakiti' Allah, karena Dia yang telah menciptakannya, dan bila 'menyakiti'Nya bertanda banyak kesusahan hidup akan segera datang menjelang, baik di dunia dan akhirat, karenanya tak pantas seorang manusia dengan alasan apapun mencela makhluk Allah apalagi menyakitinya.
Hadits ini bercerita tentang orang yang mencela masa, yang notebene tak mempunyai 'perasaan', tetapi segitunya Allah merasa 'tersakiti' lantara celaan hambaNya, apalagi mencela makhlukNya yang mempunyai rasa, apalagi bila bukan hanya mencela tetapi telah mengarah pada menyakiti makhlukNya, bisa dibayangkan betapa Allah teramat murka kepada pelakunya tersebut.
Waktu terus berputar, tak ada satupun yang mampu menahannya, hanya Dia yang 'menggenggam' semua urusan, maka tak usah sesali waktu dan kesempatan yang telah berlalu apalagi mencelanya, berkarya baik saja untuk menyongsong kebahagiaan abadi, karena semakin berganti hari berarti semakin mendekati mati.
Allah bersumpah dengan waktu didalam al-Quran, dan bila tak pandai untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dengan banyak kebaikan maka sungguh mereka orang yang dalam kerugian, bila dalam kerugiaan tentunya akan ada sesal yang datang menjelang, dan saat itu tak ada lagi kesempatan buat mengulang dan memperbaiki.
مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab." (QS. Ghaafir : 40)
مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab." (QS. Ghaafir : 40)
Hidup di dunia sebenarnya terlalu sederhana dan teramat ringan, karena selain masanya cuma sebentaran juga adanya kepastian dari Allah untuk memberikan kehidupan yang layak bagi setiap hambaNya yang beriman, yang susah dan harus difikirkan itu saat semua manusia 'digiring' di padang Mahsyar buat mempertanggung jawabkan semua yang telah dilakukan di dunia, saat itulah kita sendirian dan tak kesempatan buat memperbaiki diri lagi.
Berlaku santunlah dihadapanNya, berlaku santunlah kepada setiap makhlukNya, maka PASTI akan terus terasa bahagia dalam setiap masa.
Wallahu A'lam Bisshowaab.
Tausiah : Allah Membenci Perceraian
"
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا مُعَرِّفٌ عَنْ مُحَارِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا أَحَلَّ اللَّهُ شَيْئًا أَبْغَضَ إِلَيْهِ مِنَ الطَّلاَقِ
Dari Muharib, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah Allah menghalalkan sesuatu yang lebih Dia benci daripada perceraian." (HR. Abu Daud : 2179)
Berumah tangga adalah sebuah karunia dariNya, setiap aktivitas yang ada didalamnya menjadi bernilai ibadah, bahkan Allah 'sengaja' menjadikan manusia berpasangan demi 'memanjakan' hambaNya dengan kebahagiaan yang banyak dan saling memberi kasih sayang dan perhatian, belum lagi Allah akan lengkapi kebahagiaan tersebut dengan kehadiran anak-anak yang baik, yang taat kepada Allah dan RosulNya dan berbakti kepada kedua orang tuanya.
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا مُعَرِّفٌ عَنْ مُحَارِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا أَحَلَّ اللَّهُ شَيْئًا أَبْغَضَ إِلَيْهِ مِنَ الطَّلاَقِ
Dari Muharib, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah Allah menghalalkan sesuatu yang lebih Dia benci daripada perceraian." (HR. Abu Daud : 2179)
Berumah tangga adalah sebuah karunia dariNya, setiap aktivitas yang ada didalamnya menjadi bernilai ibadah, bahkan Allah 'sengaja' menjadikan manusia berpasangan demi 'memanjakan' hambaNya dengan kebahagiaan yang banyak dan saling memberi kasih sayang dan perhatian, belum lagi Allah akan lengkapi kebahagiaan tersebut dengan kehadiran anak-anak yang baik, yang taat kepada Allah dan RosulNya dan berbakti kepada kedua orang tuanya.
Karena alasan itulah syeitan tak henti-hentinya 'menggoda' manusia agar bercerai dan hancur rumah tangganya, karena setiap terjadi perceraian akan 'rentan' sekali untuk melakukan dosa2 besar, baik laki2 maupun perempuan, keduanya akan mudah sekali untuk 'menerima' bujuk rayu syeitan, yang pada akhirnya akan terjerumus pada banyak praktek kemaksiatan.
Perceraian itu menyakitkan, perceraian itu adalah petaka dan tidak ada yang indah, banyak 'korban' yang akan merasakan kesedihan, karena perceraian adalah 'target' tipu daya syeithan, maka bentengilah rumah tangga dengan selalu menjadi 'orang baik' dihadapan Allah.
Perceraian dibolehkan dalam agama, tetapi Allah membencinya, maka bila Dia membenci, mana mungkin akan ada kebaikan dan keindahan, tetap saja mempertahankan rumah tangga lebih utama dan tentunya membutuhkan kesalehan dari keduanya yaitu suami dan istri, bila keduanya atau seorang dari keduanya 'tidak baik' dihadapan Tuhannya maka terjadilah konflik yang berkepanjangan dalam berumah tangga, yang pada akhirnya terjadi perceraian. Na'udzu billah.
Bersabarlah dalam mengarungi rumah tangga, jangan pernah 'jauh' dariNya, karena syeitan punya banyak cara buat 'menghempaskan' kebahagiaan berumahtangga, dia bisa 'menjelma' sebagai lelaki atau perempuan yang akan 'merusak' kebahagiaan yang sudah terbina, lalu dia akan bisikkan sebuah kesalahan menjadi kebenaran, karena syeitan mengharapkan 'kehancuran' bagi semua manusia, agar banyak teman nantinya didalam neraka.
Bersabarlah dalam mengarungi rumah tangga, jangan pernah 'jauh' dariNya, karena syeitan punya banyak cara buat 'menghempaskan' kebahagiaan berumahtangga, dia bisa 'menjelma' sebagai lelaki atau perempuan yang akan 'merusak' kebahagiaan yang sudah terbina, lalu dia akan bisikkan sebuah kesalahan menjadi kebenaran, karena syeitan mengharapkan 'kehancuran' bagi semua manusia, agar banyak teman nantinya didalam neraka.
Buat para suami dan terutama para istri yang sedang 'berjuang' mempertahankan keutuhan rumah tangga, tetaplah tegar dalam menghadapinya, jangan menyerah, karena selama urusan dipasrahkan kepada Allah maka akan selalu mendapatkan kemenangan, janjiNya tak terbantahkan, dan jadilah pemenang demi kebahagiaanmu dan anak2 yang telah Allah amanahkan dalam hidupmu.
فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ
"Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu." (QS. Ar-Rum : 60)
Wallahu A'lam Bisshowaab.
Lemah Lembut
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ يُونُسَ وَحُمَيْدٍ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَيْهِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ
Dari Abdullah bin Mugoffal, bahwasanya Rosulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia menyukai kelembutan dan Dia akan memberi kepada kelembutan yang tidak diberikan jika seseorang bersikap kasar.” (HR. Abu Dawud : 4809)
Hadits pagi ini mengandung keutamaan sifat lemah lembut, anjuran untuk berakhlak dengannya, serta tercelanya sifat kasar dan keras. Sesungguhnya sifat lemah lembut merupakan sebab untuk meraih segala kebaikan, siapapun yang ‘berhias’ dengan sifat ini maka akan selalu ‘dikerumuni’ dengan orang2 yang baik, karena Allah mencintai pemilik sifat tersebut, begitulah yang dilakukan oleh Nabi SAW dalam sepanjang hayat beliau, sehingga membuat banyak kawan bahkan lawan yang ‘terpesona’ dengan kemilau akhlak beliau.
Pada hadits lain Nabi SAW bersabda : “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang diharamkan dari neraka atau neraka diharamkan atasnya? Yaitu atas setiap orang yang dekat dengan manusia dengan lemah lembut dan suka memberikan kemudahan.” Pemilik sifat lemah lembut dan yang senang memberikan kemudahan kepada saudaranya yang sedang kesusahan mendapat jaminan dari Nabi SAW dari siksa neraka dan tentu akan berlaku sebaliknya.
Rasulullah memerintahkan setiap Muslim supaya bersikap lemah lembut, bukan hanya kepada manusia saja, tetapi juga terhadap semua makhluk Allah, beliau mengajarkan kepada para sahabatnya untuk berlaku baik termasuk terhadap binatang yang akan disembelih, beliau menganjurkan untuk mengasah pisau yang akan digunakan menyembelih agar diasah setajam-tajamnya.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka dengan sebab rahmat dari Allah (kepadamu wahai Muhammad), engkau telah bersikap lemah lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka akan lari dari kelilingmu. Maafkanlah dan mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam setiap urusan. Kemudian apabila engkau telah bersepakat maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengasihi orang-orang yang bertawakal kepadaNya. (QS. Ali Imran : 159).
Sifat lemah lembut langsung Allah ajarkan kepada nabi SAW, sifat ini menjadi ‘modal’ utama untuk mengajak kepada kebaikan dan membuat banyak orang bersimpatik, karena sifat lemah lembut pastinya akan selalu menghadirkan ‘kedamaian’ dan kebahagiaan bagi siapa saja.
Berlemah lembutlah, jadikanlah ia sebagai ‘perhiasan’ yang selalu dikenakan dalam setiap keadaan, dan rasakan betapa hidupmu akan berlimpah kasih dariNya dan semua makhlukNya.
Wallahu A’lam Bisshowaab.
Pentingnya Menuntut Ilmu
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ أَبِى طُوَالَةَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ الأَنْصَارِىِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari Abu Hurairoh, dia berkata, telah bersabda nabi SAW: “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya ‘wajah’ Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak menuntutnya hanya untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud : 3666
Menuntut ilmu hukumnya wajib, waktunya hingga mati datang menjelang, setiap ilmu yang dipelajari maka seharusnya ‘mengarahkannya’ untuk menuju keridhoanNya, semakin memacu setiap yang belajar untuk ‘pandai’ membedakan yang HAK dan yang BATHIL, sehingga ilmu yang didapat bukan hanya menghilangkan kebodohan, tetapi juga semakin menjadikannya sebagai ‘Ibadurrachman’.
Ilmu
apapun yang sekarang sedang ‘digeluti’, seyogyanya akan membentuk
karakter Robbani, mereka akan menjadikan hadits ini sebagai pengingat
setiap saat, bahwa tujuan menuntut ilmu adalah untuk menggapai
kebahagiaan di akhirat, bila tujuan akhirat diutamakan maka kebahagiaan
dunia PASTI akan ia dapatkan secara otomatis, tetapi bila sebaliknya
maka aroma syurga tak akan pernah tercium olehnya apalagi merasakan
nikmatnya.
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Fathir : 28)
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Fathir : 28)
Ayat
ini jelas menunjukan bahwa bila memiliki ilmu maka akan semakin ‘takut’
berbuat salah kepada Allah, karena ketakutan akan sangat tergantung
dengan kadar pengetahuannya terhadap yang ditakuti, dan mereka yang
memiliki ilmu maka akan mengenal Allah dan menimbulkan rasa takut
bersalah dan juga pengharapan terhadapNya, ayat ini juga menjadi dalil
bahwa orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya dari ahli ibadah.
Pepatah arab : “LAW ‘ALIMA LA’AMILA” (seandainya dia mengetahui maka niscaya dia berbuat), ilmu akan menghantarkan seseorang dekat dengan Allah, bukan justeru menjauhkan, apalagi ‘memanfaatkan’ ilmu hanya untuk kesenangan dunia yang sementara dan berharap pengakuan dari manusia. Pengakuan yang tertinggi adalah dariNya, manakala semakin dekat kepadaNya dan tak ‘tergerus’ oleh nafsu dunia.
Wallahu A’lam Bisshowab.
Pepatah arab : “LAW ‘ALIMA LA’AMILA” (seandainya dia mengetahui maka niscaya dia berbuat), ilmu akan menghantarkan seseorang dekat dengan Allah, bukan justeru menjauhkan, apalagi ‘memanfaatkan’ ilmu hanya untuk kesenangan dunia yang sementara dan berharap pengakuan dari manusia. Pengakuan yang tertinggi adalah dariNya, manakala semakin dekat kepadaNya dan tak ‘tergerus’ oleh nafsu dunia.
Wallahu A’lam Bisshowab.
Manusia Berharga
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَسَنِ الْمِصِّيصِىُّ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ - يَعْنِى ابْنَ مُحَمَّدٍ - حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ قَالَ حَدَّثَنِى مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ جُبَيْرٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ قَالَ ايْمُ اللَّهِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ وَلَمَنِ ابْتُلِىَ فَصَبَرَ فَوَاهًا
Dari Miqdad bin al-Aswad berkata, aku bersumpah dengan nama Allah, sungguh aku mendengar Rosulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari berbagai macam fitnah, Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari berbagai macam fitnah, Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari berbagai macam fitnah. Dan orang yang bahagia adalah orang yang apabila diuji dengan sesuatu yang menyedihkan maka dia bersabar”. (HR. Abu Dawud : 4265
Menurut Imam al-Alusi dalam kitab Tafsirnya “ Ruuhul Ma’aaniy Fi Tafsiiri al-Qur’an al-‘Azim Wa Al-Sab’u al-Matsaani” kata fitnah berasal dari kata “fatana” yang berarti membakar logam, emas atau perak untuk menguji kemurniannya. Juga berarti membakar secara mutlak, meneliti, kekafiran, perbedaan pendapat dan kezaliman, hukuman dan kenikmatan hidup.
Didalam al-Quran kata fitnah sering diulang, tentunya juga dengan maksud yang berbeda, perbedaan terjadi sesuai dengan konteks dari ayat tersebut, tetapi secara umum Fitnah bisa difahami juga sebagai ujian kehidupan dalam berbagai keadaan, dalam keadaan berlimpah karunia ataupun dalam keadaan susah, sehingga dengan ujian itu akan ‘terlahir’ manusia2 hebat yang selalu mendedikasikan dirinya untuk berjuang di jalan Allah dan selalu dekat denganNya.
Tetapi yang banyak terjadi dikalangan masyarakat, bahwa ujian lebih identik dengan kesusahan-kesusahan hidup, seperti : sakit, kurang harta, konflik dalam rumah tangga dan masalah2 lainnya yang membuat sesak didalam dada, padahal kesenangan dan serba kecukupan juga merupakan ujian yang harus disikapi dengan baik sehingga menjadi “pemenang”. Saat dimana seorang hamba tetap menjadi ta’at kepada Allah, melaksanakan perintahNya dan menjauhi semua laranganNya, maka sesungguhnya ia telah menjadi orang yang selamat dari segala fitnah dunia.
Pada hadits hari ini, Nabi SAW mengulang tiga kali ciri orang yang bahagia, yakni manakala terhindar dari fitnah dan baru mengikutinya dengan orang yang bahagia ketika tetap bersabar ketika mendapatkan ujian, karena mereka yang bersabar sesungguhnya ditemani Allah dan pasti akan beriring pertolongan dan kemuliaan. Butuh ‘kecerdasan’ khusus dalam menyikapi hidup di dunia ini, yang pada akhirnya akan membentuk kepribadian yang penuh dengan kebaikan dalam setiap keadaan, merekalah yang berbahagia, karena gerakan dan sikapnya akan selalu terjaga dari kesalahan yang dzohir maupun bathin.
Ada alasan mengapa manusia diuji dengan kesusahan ataupun kesedihan, boleh jadi karena ada dosa yang harus di ‘konversi’ dengan airmata dan ini lebih mengarah kepada ‘hukuman’, atau boleh jadi Allah teramat menyayanginya, sehingga diharapkan melewati ujian tersebut dengan sabar dan berarti akan ditemani Tuhan.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. (QS. Al-Anbiya : 35)
Kembali saja kepada Allah, maka rasakan betapa indahnya hidup ini, saat ini, esok dan hingga saat dikumpulkan bersama Nabi SAW di Taman Syurga yang sesungguhnya. Insya Allah
Wallahu A’lam Bisshowaab.
Dari Miqdad bin al-Aswad berkata, aku bersumpah dengan nama Allah, sungguh aku mendengar Rosulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari berbagai macam fitnah, Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari berbagai macam fitnah, Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari berbagai macam fitnah. Dan orang yang bahagia adalah orang yang apabila diuji dengan sesuatu yang menyedihkan maka dia bersabar”. (HR. Abu Dawud : 4265
Menurut Imam al-Alusi dalam kitab Tafsirnya “ Ruuhul Ma’aaniy Fi Tafsiiri al-Qur’an al-‘Azim Wa Al-Sab’u al-Matsaani” kata fitnah berasal dari kata “fatana” yang berarti membakar logam, emas atau perak untuk menguji kemurniannya. Juga berarti membakar secara mutlak, meneliti, kekafiran, perbedaan pendapat dan kezaliman, hukuman dan kenikmatan hidup.
Didalam al-Quran kata fitnah sering diulang, tentunya juga dengan maksud yang berbeda, perbedaan terjadi sesuai dengan konteks dari ayat tersebut, tetapi secara umum Fitnah bisa difahami juga sebagai ujian kehidupan dalam berbagai keadaan, dalam keadaan berlimpah karunia ataupun dalam keadaan susah, sehingga dengan ujian itu akan ‘terlahir’ manusia2 hebat yang selalu mendedikasikan dirinya untuk berjuang di jalan Allah dan selalu dekat denganNya.
Tetapi yang banyak terjadi dikalangan masyarakat, bahwa ujian lebih identik dengan kesusahan-kesusahan hidup, seperti : sakit, kurang harta, konflik dalam rumah tangga dan masalah2 lainnya yang membuat sesak didalam dada, padahal kesenangan dan serba kecukupan juga merupakan ujian yang harus disikapi dengan baik sehingga menjadi “pemenang”. Saat dimana seorang hamba tetap menjadi ta’at kepada Allah, melaksanakan perintahNya dan menjauhi semua laranganNya, maka sesungguhnya ia telah menjadi orang yang selamat dari segala fitnah dunia.
Pada hadits hari ini, Nabi SAW mengulang tiga kali ciri orang yang bahagia, yakni manakala terhindar dari fitnah dan baru mengikutinya dengan orang yang bahagia ketika tetap bersabar ketika mendapatkan ujian, karena mereka yang bersabar sesungguhnya ditemani Allah dan pasti akan beriring pertolongan dan kemuliaan. Butuh ‘kecerdasan’ khusus dalam menyikapi hidup di dunia ini, yang pada akhirnya akan membentuk kepribadian yang penuh dengan kebaikan dalam setiap keadaan, merekalah yang berbahagia, karena gerakan dan sikapnya akan selalu terjaga dari kesalahan yang dzohir maupun bathin.
Ada alasan mengapa manusia diuji dengan kesusahan ataupun kesedihan, boleh jadi karena ada dosa yang harus di ‘konversi’ dengan airmata dan ini lebih mengarah kepada ‘hukuman’, atau boleh jadi Allah teramat menyayanginya, sehingga diharapkan melewati ujian tersebut dengan sabar dan berarti akan ditemani Tuhan.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. (QS. Al-Anbiya : 35)
Kembali saja kepada Allah, maka rasakan betapa indahnya hidup ini, saat ini, esok dan hingga saat dikumpulkan bersama Nabi SAW di Taman Syurga yang sesungguhnya. Insya Allah
Wallahu A’lam Bisshowaab.
Langganan:
Postingan (Atom)



